Showing posts with label Al Quran. Show all posts
Showing posts with label Al Quran. Show all posts
Sunday, 10 April 2016
Surat Al-Asr (2)
Kandungan
Surat Al ‘Ashr
Pada ayat pertama:
(وَالْعَصْرِ)
Allah ? bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada
zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang
buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah
jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan
untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan.
Rasulullah ? bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا
كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua
kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu
senggang” (HR. At Tirmidzi no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas ?)
Kemudian di hari kiamat kelak Allah ? akan menanyakan tentang umur seseorang,
untuk apa dia pergunakan? Sebagaimana hadits Rasulullah ? yang diriwayatkan
oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud ?, beliau ? bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ
فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ
اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidaklah
bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga
ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk
apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan,
dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui. (HR. At
Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash
Shahihah no. 947)
Kemudian Allah ? menyebutkan ayat berikutnya:
إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.”
Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup
keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah ? tidak memandang agama, jenis
kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah ? mengkhabarkan bahwa
semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang
terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.
Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat
mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia
kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan
bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya
sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di)
Pertama:
Keimanan
Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat:
إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا
“Kecuali
orang-orang yang beriman”
Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah ? perintahkan untuk
mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala
sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah ? dari keyakinan-keyakinan yang
benar dan ilmu yang bermanfaat.
Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu
tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi ?.
Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan
yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa
yang ia imani dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah ? berfirman (artinya):
“Allah bersaksi (bersyahadat untuk diri-Nya sendiri) bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah kecuali Dia (Allah), para Malaikat dan orang-orang yang
berilmu (juga bersyahadat yang demikian itu), …” (Ali Imran: 19)
Dalam ayat yang mulia ini Allah ? menggandengkan syahadat orang-orang yang
berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat
laa ilaaha illallaah merupakan keimanan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan
tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa
salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia
persaksikan. Sebagaimana firman Allah ?:
إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ
يَعْلَمُوْنَ
“Kecuali
barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka
mengetahuinya (berilmu).” (Az Zukhruf: 86)
Sehingga tersirat dari penggalan ayat:
إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا
kewajiban
menimba ilmu agama. Terlebih lagi Rasulullah ? menegaskan dalam haditsnya:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ
مُسْلِمٍ
“Menuntut
ilmu (agama) adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.
224)
Kedua:
Beramal shalih
Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya):
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Dan
beramal shalih.”
Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan
maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun
bersifat mustahab (anjuran).
Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa
dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari
kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama’ menyebutkan salah satu
prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah bahwa amal shalih itu bagian dari
iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan
amalan yang jelek (kemaksiatan)
Oleh karena itu, dalam Al Qur’an Allah ? banyak menggabungkan antara iman dan
amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang
lainnya. Diantaranya firman Allah ? (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan
amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya
akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)
Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih)
di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya
sendiri.” (Taisir Karimirrahman)
Ketiga:
Saling menasehati dalam kebenaran
Merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari
kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam
menjalankan ketaatan kepada Allah ? serta meninggalkan perkara-perkara yang
diharamkan-Nya.
Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam
memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ? ketika memperingatkan kaumnya
dari kesesatan: “Dan aku memberi nasehat kepada kalian.” (Al A’raaf: 62).
Kemudian Nabi Hud ? yang berkata kepada kaumnya: “Aku hanyalah pemberi nasehat
yang terpercaya bagimu.” (Al A’raaf: 68)
Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah ? di
dalam haditsnya:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
“Agama
ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari ?)
Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena
kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah ? melaknat kaum
kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana
firman-Nya (artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan
mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka
perbuat.” (Al Maidah: 79)
Demikian pula orang-orang munafik yang diantara mereka saling menyuruh kepada
perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf, Allah ? telah
memberitakan keadaan mereka di dalam Al Quran, sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian
yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada perbuatan yang mungkar dan
melarang dari perbuatan yang ma’ruf.” (At Taubah: 67)
Keempat:
Saling menasehati dalam kesabaran
Saling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan
terhadap Allah ? dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi
larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir
dan ketetapan-Nya.
Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan
yang lainnya, maka sesungguhnya Allah ? telah menjanjikan bagi mereka pahala
yang tidak terhitung, Allah ? berfirman (artinya): “Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az
Zumar:10)
Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah
mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal
shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir
(saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan
orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah
beruntung dengan keberuntungan yang agung. Wallahu A’lam.
Penutup
Demikianlah para pembaca sedikit dari apa yang kami sampaikan mengenai tafsir
Surat Al ‘Ashr semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam
menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ? ini. Dan tentunya kita berharap
agar dapat memiliki 4 sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian baik di
dunia maupun di akhirat. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.
Surat Al-Asr (1)
Allah subhanahu wata’ala
berfirman:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي
خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi
masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka),
kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam
kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Kedudukan
Surat Al ‘Ashr
Al Qur’an adalah kalamullah ? (firman Allah) sebagai pedoman dan petunjuk ke
jalan yang lurus bagi umat manusia. Allah ? berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus.” (Al Israa’: 9)
Sehingga semua ayat-ayat Al Qur’an memiliki kedudukan dan fungsi yang agung.
Demikian pula pada surat
Al ‘Ashr, terkandung di dalamnya makna-makna yang amat berharga bagi siapa saja
yang mentadabburinya (memahaminya dengan seksama).
Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau
berkata:
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ
لَوَسِعَتْهُمْ
“Sekiranya
manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini,
niscaya surat
ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i
itu adalah tepat karena Allah ? telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam
keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih
(beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada
jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa,
28/152)
Keutamaan
Surat Al ‘Ashr
Al Imam Ath Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh ?, ia berkata: “Jika
dua shahabat Rasulullah ? bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali
setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat Al ‘Ashr hingga selesai, kemudian
memberikan salam.” (Al Mu’jamu Al Ausath no: 5097, dishahihkan oleh Asy Syaikh
Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 2648)
Saturday, 9 April 2016
Hukum Membaca Al-Quran
Hukum Membaca Al Quran tapi Kurang FasihPERTANYAAN :
> Ojoo Tuakookk Jenengku
Assalaamu’alaikum. Selamat malam semua..saya mau tanya nih ustadz.. Bagaimana hukumnya membaca Al-Qur’an tapi bacaannya tak begitu fasih…apakah kita berdosa..???
JAWABAN :
> Ghufron Bkl
Wa’alaikumussalaam. Hukumnya berdosa bila sampai merubah makna, dan bila tidak maka tidak.
Referensi dari kitab Nihayatul Qoul Al-Mufid halaman 24 :
إعلم أن الواجب في علم التجويد ينقسم إلى واجب شرعي وهو ما يثاب على فعله و يعاقب على تركه أو صناعي وهو ما يحسن فعله و يقبح تركه و يعزر على تركه التعزير اللائق عند أهل تلك الصناعة فالشرعي ما يحفظ الحروف من تغيير المبني و إفساد المعنى فيأثم تاركه والصناعي فيما ذكره العلماء في كتب التجويد كالإدغام والإخفاء والإقلاب والترقيق والتفخيم فلا يأثم تاركه على اختيار المتأخرين . نهاية القول المفيد : ص : ٢٤
1. Wajib Syar’ie : yakni berpahala jika dikerjakan dan berdosa bila ditinggalkan
2. Wajib Shona’ie : yakni bagus dikerjakan dan jelek jika ditinggalkan, dan bagi yang meninggalkan akan dita’zir dengan ta’zir yang sesuai bagi ahlinya
Adapun wajib syar’ie meliputi perkara yang berhubungan dengan makhorijul huruf yang bisa merubah makna atau bahkan merusak makna, maka hukumnya berdosa bagi orang yang meninggalkannya. Sedangkan yang wajib shona’ie keterangannya seperti penjelasan ulama yang terdapat dalam kitab kitab tajwid, seperti idghom, ikhfa’, iqlab, tarqiq, tafkhim, dan sebagainya, hukumnya tidak berdosa bagi orang yang meninggalkannya”. Wallahu A’lam.
Baca juga artikel terkait :
3591. PAHALA MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TERBATA-BATA
Link Diskusi :
www.fb.com/groups/piss.ktb/880746275281515/
Friday, 8 April 2016
PENGARUH BACAAN AL-QUR'AN KE OTAK
PENGARUH BACAAN AL-QUR'AN KE OTAK
"Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur'an...".
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an.
Al-Qur'an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Q.S. 7: 204).
MASYA ALLAH...
Semoga yang membaca tulisan ini & yang Membagikan mendapat pasangan yang setia, sholeh/sholehah dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, serta kelak dimasukkan ke dalam surga yang terindah. Aamiin
(“Jika kita telah mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini, jangan lupa membagikannya kepada orang lain agar orang lain merasakan juga keajaiban dalam hidup mereka”)
Wassalam,
Muhamad Agus Syafii
Manusia dalam Perspektif al-Qur'an
Manusia dalam Perspektif al-Qur'an
Penciptaan Manusia
Manusia
diberikan berbagai keistimewaan oleh Allah swt. Demikian istimewanya manusia
hingga ia disebutkan sebanyak dua kali dalam rangkaian wahyu pertama yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. [96]:1-5.
Di dalam al-Qur'an—bahkan—ditemui sebuah surat yang diberi
nama al-Insan, yakni surat ke-76.
Di dalam al-Qur'an dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari
tanah dan setelah sempurna dihembuskan kepadanya ruh. Hal ini dapat terlihat
dengan jelas pada surat [38]:71-72. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
manusia itu tersusun atas dua unsur pokok, yaitu gumpalan tanah dan hembusan
ruh. masing-masing unsur tersebut tak dapat dipisahkan.
Dalam al-Qur'an disebutkan juga bahwa informasi tentang akan
diciptakannya manusia telah diinformasikan kepada malaikat. Informasi tersebut
menyatakan bahwa manusia akan menjadi khalifah Allah swt. di
muka bumi.
Atas fungsi terakhir inilah maka Allah swt. memberikan manusia akal yang
digunakan untuk berfikir.
Sifat Manusia
Dengan
berfikir manusia akan memiliki perilaku yang berbeda. Perbedaan itu bisa
bersifat positif dan bisa bersifat negatif. Berikut ini penulis akan memaparkan
berbagai karakteristik sifat manusia dengan meminjam teori Abdul Muin Salim.
Teori ini dinamakan Abdul Muin Salim sebagai teori "Halma" yang dapat
digambarkan dalam gambar berikut ini:
Dari teori ini dapat dijelaskan bahwa manusia itu memiliki sifat sebagai
berikut:
· Manusia
pada dasarnya diinginkan untuk beriman kepada Allah swt. sebagaimana yang
tersebut dalam surat [2]:13
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu
sebagaimana orang-orang lain Telah beriman." mereka menjawab: "Akan
berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu Telah beriman?"
Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak
tahu.
· Manusia
juga dituntut untuk menjadi muslim sebagaimana yang dinyatakan dalam surat
[3]:102
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam.
· Al-Qur'an
juga memerintahkan manusia untuk berbuat ihsan, sebagaimana yang disebutkan
dalam surat [4]:36
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan
diri.
Di samping hal-hal yang diperintahken tersebut ada juga
sifat-sifat yang tidak diinginkan yang dimiliki oleh manusia. Hal tersebut
adalah:
· Fasik,
sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur'an surat [5]:47
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara
menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. barangsiapa tidak memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang
yang fasik.
· Zalim
sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur'an surat [3]:57
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amalan-amalan yang saleh, Maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan
Sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang
zalim.
· Kufur
sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur'an surat [2]:39
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat
kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Namun demikian ada juga manusia yang
"mengkombinasikan" sifat-sifat tersebut dalam kehidupannya, misalnya;
ada manusia yang beriman tetapi ia fasik dan zalim. Ada juga manusia yang
mengaku dirinya muslim tetapi ia kufur dan melakukan
kefasikan.
A. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas maka dapat diambil beberapa
kesimpulam sebagai berikut ini:
1. Di antara ungkapan
al-Qur'an mengenai manusia adalah dengan menggunakan kata al-insandan al-basyar.
2. Al-insan dan al-basyar sama-sama
digunakan untuk menunjukkan: a. proses awal kejadian
manusia; b. pengertian
manusia secara fisik.
3. Di antara perbedaan
antara istilah al-insan dan al-basyar dalam
al-Qur'an adalah: a. Istilah
pertama ditujukan untuk menunjukkan esensi
manusia, sementara istilah kedua digunakan untuk
menunjukkan eksistensi
manusia; b. istilah pertama digunakan untuk menyebutkan manusia
dengan keadaan
awalnya, sementara istilah kedua digunakan untuk menyebutkan manusia dalam
keadaan yang lebih sempurna; c. Istilah pertama pada umumnya digunakan untuk
menunjukkan
aspek negatif manusia, sementara istilah kedua digunakan untuk
menunjukkan aspek positif
manusia.
4. Manusia diciptakan
dari tanah kemudian ditiupkan padanya ruh dan lalu diberikan akal. Karena
manusia itu berakal maka ia berperilaku, baik positif maupun negatif. Terkadang
juga manusia
yang memiliki sifat positif berperilaku dengan perbuatan yang
negatif.
B. Implikasi
Tulisan ini telah menunjukkan berbagai aspek
"kemanusiaan"-nya manusia. Yang positif harus terus diabadikan dan
negatif tentu saja harus segera ditinggalkan. Tulisan ini hanya merupakan hasil
penelitian sederhana penulis yang amat terikat dengan waktu dan fasilitas.
Penelitian lebih luas tentu masih diharapkan untuk menyempurnakannya.
Persamaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an
Persamaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam
al-Qur'an
Di antara persamaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam
al-Qur'an dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Kata al-Insan dan al-Basyar sama-sama
ditempatkan ketika menunjukkan proses awal kejadian manusia. Pengertian ini
misalnya dapat terlihat pada ayat 15:26,
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
dan pada ayat [15]:33
Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada
manusia yang Engkau Telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal)
dari lumpur hitam yang diberi bentuk"
b. Kata al-Insan dan al-Basyar sama-sama
menunjukkan arti manusia secara fisik. Pengertian ini misalnya dapat terlihat
pada ayat [75]:3,
Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan
(kembali) tulang belulangnya?
dan pada ayat [19]:26
Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu
melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya Aku Telah bernazar
berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka Aku tidak akan berbicara dengan
seorang manusiapun pada hari ini".
Pendapat penulis yang
terakhir ini agaknya berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Bint Syati' yang
menyatakan bahwa jika pemahaman manusia adalah aspek fisik, maka al-Qur'an
menggunakan term basyar bukan al-insan.
Perbedaan
antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an
Di antara hasil penelitian yang dilakukan, penulis menemukan
perbedaan yang signifikan antara kata al-insan dan al-basyar.
Perbedaan itu antara lain adalah:
a. Kata al-insan digunakan
untuk menunjukkan esensi manusia.
Hal ini dapat terlihat dari surat [15]:26
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Kata al-Basyar digunakan untuk menunjukkan
eksistensi manusia. Hal ini dapat terlihat dari ayat selanjutnya dari surat
yang sama yakni surat [15]:28
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Pada ayat terakhir ini
ditemukan unsur baru yaitu penyempurnaan kejadian manusia. Berkenaan dengan
penyempurnaan itu pula maka perbedaan lainnya adalah:
b. Kata al-insan digunakan
untuk menyebutkan manusia dengan keadaan awalnya, sementara kata al-Basyar digunakan
untuk menyebutkan manusia dalam keadaan yang lebih sempurna, sebagaimana yang
termaktub dalam surat [30:20]
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia
menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang
berkembang biak.
Dan surat [3]:47
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin Aku
mempunyai anak, padahal Aku belum pernah disentuh oleh seorang
laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril):
"Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah
berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah Hanya cukup Berkata kepadanya:
"Jadilah", lalu jadilah Dia.
c. Ketika Allah
swt. menyebutkan keadaan atau sifat-sifat positif, pada umumnya kata al-basyar yang
digunakan, sebagai contoh sebagai berikut: [12]:31
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka,
diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk,
dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong
jamuan), Kemudian dia Berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah
dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka
kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan
berkata: "Maha Sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya Ini
tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." [11]:27
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya:
"Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)
seperti kami.
Sementara ketika menyebutkan keadaan atau sifat-sifat
negatif, pada umumnya kata al-insan yang digunakan. Sebagi
contoh: Surat [43]: 15,
Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya
sebagai bahagian daripada-Nya[1349]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).
Surat [70]:19
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir.
KONSEP AL-BASYAR DALAM AL-QUR'AN
KONSEP AL-BASYAR DALAM AL-QUR'AN
1. al-Basyar
Penulis menemukan ada 37 ayat yang
mencantumkan kataal-Basyar (البشر),
ayat-ayat tersebut adalah 36 dalam bentuk tunggal, yaitu yang tercantum padasurah:
[3]:47, 79, [5]:18, [6]:91, [11]:27, [12]:31, [14]:10, 11, [15]:28, 33, [16]:103,
[17]:93, 94, [18]:110, [19]:17, 20, 26, [21]:3, 34, [23]:24, 33, 34,
[25]:54, [26]:154, 186, [30]:20, [36]:15, [38]:71, [41]:6, [42]:51, [54]:24,
[64]:6, [74]:25, [74]:29, 31, 36, dan 1 dalam bentuk tatsniyah(dual),
yaitu pada surat [23]:47.
Di dalam al-Qur'an kata al-Basyar (البشر) berakar dari huruf ba (ب), syin (ش), dan ra (ر), memiliki kata derifasi basysyir/yubasysyiru, busyra, mubsyirin, yastabsyirun,
dan absyiru. Dari hasil pencarian kata derifasi tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Kata basysyir misalnya
yang tercantum dalam surat: [2]:25, 115, 223, [3]:21, [4]:138, [9]:3,
[9]:34,
[9]:112, [10:2], [10:87], [11]:71, [15]:55, [16]:58, 59, nubasysyiru misalnya:
[15]:53yubasysyiru misalnya: [3]:39, 45, [9,21]/tubasysyirun misalnya
pada surat [15]:54.
2. Kata busyra ,
misalnya yang terdapat pada surat: [2]:97, [3]:126, [8]:10, [10]:64, [11]:69,
[11]:74, [12]:19, [16]:89, 102, [25]:22, [27]:2, [29]:31, [39]:17 dan [46]:12.
3. Kata absyiru ,
terdapat pada surat: [41]:30.
4. Kata yastabsyirun ,
misalnya pada surat: [3]:170, dan 171.
5. Kata mubsyirin,
yang terdapat dalam surat: [2]:213, [4]:165, [6]:48, dan [18]:56.
Kata derifasi basysyir /yubasysyiru berarti
memberikan kabar gembira, busyra berarti berita gembira, mubsyirin berarti
pemberi kabar gembira (pemberi peringatan), yastabsyirun berarti
bergembira, dan absyiru berarti gembirakan.
Al-Ashfahaniy menguraikan
kata al-basyar dengan menyebutkan kata al-basyroh(البشرة) yang berarti kulit
luar (ظاهر الجلد), kemudian
mengibaratkan disebutnya manusia itu sebagai basyar karena
kulitnya yang tampak dengan jelas. Berbeda dengan binatang yang kulitnya tertutupi
oleh bulu.
Penulis kurang sependapat dengan hal tersebut, karena: 1. kata البشرة tidak dapat
ditemukan di dalam al-Qur'an, 2. masih ada hewan yang kulit luarnya tampak
dengan jelas. Oleh karena itu penulis cenderung mengembalikannya kepada maknanya
dengan melihat kepada kata yang ada di dalam al-Qur'an sendiri yakni basyar (بشر). Kata terakhir diartikan oleh Abu
al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya diartikan
sebagai ظهور السئ مع حسن وجمال yang berarti
tampaknya sesuatu dengan baik dan indah. Makna inilah—dalam hemat penulis—yang
tersirat dari firman Allah swt. misalnya: [12]:31
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka,
diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk,
dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong
jamuan), Kemudian dia Berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah
dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka
kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan
berkata: "Maha Sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya Ini
tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
KONSEP AL-INSAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN
KONSEP AL-INSAN DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR'AN
1. Ungkapan
al-Qur'an tentang Manusia
Sebagaimana disinggung di atas ada dua ungkapan al-Qur'an
tentang manusia. Ungkapan tersebut adalah al-Insan dan al-Basyar.
Berikut ini penulis akan mencoba mengemukakan ungkapan al-Qur'an tersebut satu
persatu.
1.a. al-Insan
Melalui program Digital Qur'an ver. 3.1 penulis
menemukan ada 56 ayat yang mencantumkan kata الإنسان,
ayat-ayat tersebut adalah yang tercantum pada surah: [4]:28,
[10]:12, [11]:9, [14]:34, [15]:26, [16]:4, [17]:11, 67, 83, 100, [18]:54,
[19]:66, 67, [21]:37, [22]:66, [23]:12, [29]:8, [31]:14, [32]:7, [33]:72,
[36]:77, [39]:8, [39]:49, [41]:49, [41]:51, [42]:48, [43]:15, [46]:15, [50]:16,
[55]:3, [55]:14, [70]:19, [75]:3, [75]:5, 10, 13, 14, 36, [76]:1, 2, [79]:35,
[80]:17, [80]:24, [82]:6, [84]:6, [86]:5, [89]:15, [89]:23, [90]:4, [95]:4,
[96]:2, [96]:5, [96]:6, [99]:3, [100]:6, dan
[103]:2.
Dalam al-Qur'an, kata al-Insan yang
berakar kata dari huruf hamzah (ء), nun (ن), dan sin(س), memiliki kata turunan (derifasi) ins (إنس), unas (أناس), anasiyy (أناسي), insiyy (إنسي), danAl-nas (الناس). Dari hasil pencarian kata derifasi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kata derifasi ins (إنس), ditemukan sebanyak 11 ayat yang terdapat
pada surat: [27]:17,
[41]:25, 26, [46]:18, [51]:56,
[55]:33, 39, 56, 74, [72]:5, dan [72]:6.
2. Kata unas (أناس) yang merupakan derifasi lainnya ditemukan
sebanyak 5 ayat yang terdapat
dalam surat: [2]:60, [7]:82, 160, [17]:71, dan
[27]:56
3. Kata anasiyy (أناسي) hanya ditemukan pada surat [25]:49.
4. Kata insiyy (إنسي) ditemukan hanya pada surat [19]:26.
5. Al-nas (الناس) ditemukan sebanyat 179 ayat yang terdapat
pada surat: [2]:8, 13, 21, 24, 44, 94, 96, 102, 142, 143, 161, 164, 165, 168,
188, 199, 200, 204, 207, 213, 224, 243, 251, 264, 273, [3]:9, 21, 41, 46, 87,
97, 112, 134, 140, 173, [4]:1, 37, 38, 53, 54, 58, 77, 105, 108, 114, 133, 142,
161, 170, 174, [5]:32, 44, 49, 67, 82, 110, [6]:122, 144, [7]:85, 116, 144,
158, 187, [8]:26, 47, 48, [9]:3, 34, [10]:2, 19, 21, 23, 24, 44, 57, 60, 92,
99, 104, 108, [11]:17, 85, 103, 118, 119, [12]:21, 38, 40, 46, 49, 68, 103,
[13]:1, 17, 31, [14]:1, 36, 37, 44, [16]:38, 61, [17]:60, 89, 94, 106, [18]:55,
[19]:10, [20]:59, [21]:61, [22]:1, 2, 3, 5, 8, 11, 18, 27, 40, 49, 65, 73, 75,
78, [25]:50, [26]:183, [27]:16, 73, 82, [28]:23, [29]:2, 10, 67, [30]:6, 8, 30,
33, 36, 39, 41, [31]:6, 20, 33, [32]:13, [33]:37, 63, [34]:28, 36, [35]:3, 5,
15, 28, 45, [38]:26, [40]:57, 59, 61, [42]:42, [43]:33, [44]:11, [45]:26,
[46]:6, [48]:20, [49]:13, [54]:20, [57]:24, 25, [62]:6, [66]:6, [83]:2, 6,
[99]:6, [101]:4, [110]:2, [114]:1, 2, 3, 5, dan 6.
Kata ins (إنس)
diartikan lawan dari jin (خلاف الجن). Anasiyy (أناسي) adalah jamak dari al-ins. Insiyy (إنسي) adalah sesuatu yang dinisbahkan kepada
manusia. Unas (أناس) adalah jamak dari al-ins.
dan Al-nas (الناس) berarti manusia.
Quraish Shihab menyatakan bahwa kata insan berasal
dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak.
Pendapat ini lebih tepat dari yang berpendapat bahwa kata insanterambil
dari kata nasiya (lupa), atau nasa-yanusu (berguncang).
Dalam hal ini penulis justru lebih cenderung kepada pendapat
terakhir yang berpendapat bahwa kata insan terambil dari
kata nasiya, hal ini disebabkan kata uns justru
tidak ditemukan dalam al-Qur'an. Sementara kata nasiya ditemukan
sebanyak 21 kali, di antaranya adalah:
Yusuf [12]:42
Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan
selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada
tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf)
kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun
lamanya.
Al-Kahfi [18]:24
Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" dan
ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan
Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada
ini".
Al-Kahfi [18]:63
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mecari
tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya Aku lupa (menceritakan
tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan Aku untuk menceritakannya
kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh
sekali".
Al-Mu'minun [23]:110
Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga
(kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat aku, dan
adalah kamu selalu mentertawakan mereka.
Al-Mujadalah [58]:19
Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.
Al-Hasyar [59]:19
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada
Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah
orang-orang yang fasik.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa bahwa salah satu sifat
mendasar dari manusia adalah lupa, baik disebabkan oleh faktor internal maupun
eksternal. Makna ini juga yang digunakan oleh al-Ashfahani. Penulis terakhir
menyatakan bahwa kata al-insan berasal dari wazan إفعلان asalnya
adalah إنسيان (lupa) disebut
dengan istilah ini karena manusia telah melakukan perjanjian dengan Allah
kemudian ia melupakannya.
Bacaan Al Fatihah (3)
PENDAPAT ULAMA SALAFI WAHABI
Ibnu Taimiyah
Tentang hadiah pahala, Ibnu
Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup
pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa
jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa
mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui
dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’
(konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli
bid’ah
Syaikh Abdullah al-Faqih
Bahkan ulama Salafi yang
bernama Syaikh Abdullah al-Faqih berfatwa berpendapat bahwa al-Fatihah
bisa sampai kepada orang yang telah wafat,:
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، سَوَاءٌ
الْفَاتِحَةُ أَوْ غَيْرُهَا وَإِهْدَاءُ ثَوَابِ قِرَاءَتِهَا إِلَى الْمَيِّتِ جَائِزٌ
وَثَوَابُهَا يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ –إِنْ شَاءَ اللهُ- مَا لَمْ يَقُمْ بِالْمَيِّتِ
مَانِعٌ مِنَ اْلاِنْتِفَاعِ بِالثَّوَابِ وَلاَ يَمْنَعُ مِنْهُ إِلاَّ الْكُفْرُ
(فتاوى الشبكة الإسلامية معدلة رقم الفتوى 18949 حكم قراءة الفاتحة بعد صلاة الجنازة
3 / 5370)
“…. Membaca al-Quran baik
al-Fatihah atau lainnya, dan menghadiahkan bacaannya kepada mayit, maka akan
sampai kepadanya –Insya Allah- selama tidak ada yang menghalanginya, yaitu
kekufuran (beda agama).” (Fatawa al-Islamiyah 3/5370)
Syeikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin (w. 1421 H)
Beliau mengatakan bahwa
bacaan al-Quran itu sampai dan boleh.
القول الثاني: أنه ينتفع بذلك
وأنه يجوز للإنسان أن يقرأ القرآن بنية أنه لفلان أو فلانة من المسلمين، سواء كان قريبا
أو غير قريب. والراجح: القول الثاني لأنه ورد في جنس العبادات جواز صرفها للميت
Pendapat kedua, adalah
mayyit bisa mendapat manfaat dari apa yang dikerjakan orang yang masih hidup.
Hukumnya boleh, orang membaca al-Quran lantas berkata; “Saya niatkan pahala ini
untuk fulan atau fulanah. Baik orang itu kerabat atau bukan. Ini adalah
pendapat yang rajih. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin w. 1421 H, Majmu’ Fatawa
wa Rasail, h. 7/ 159)
Kesimpulan
Bacaan dzikir yang
dihadiahkan kepada ahli kubur dapat sampai kepada mereka, sebagaimana dikatakan
oleh al-Thabari:
وَقَالَ الْمُحِبُّ الطَّبَرِي
يَصِلُ لِلْمَيِّتِ كُلُّ عِبَادَةٍ تُفْعَلُ وَاجِبَةٍ أَوْ مَنْدُوْبَةٍ وَفِي شَرْحِ
الْمُخْتَارِ لِمُؤَلِّفِهِ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ لِلاِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ
ثَوَابَ عَمَلِهِ وَصَلاَتِهِ لِغَيْرِهِ وَيَصِلُهُ اهـ (حاشية إعانة الطالبين 1
/ 33)
“Semua ibadah yang
dilakukan, baik ibadah wajib atau sunah, dapat sampai kepada orang yang telah
wafat. Dan disebutkan dalam kitab Syarah al-Mukhtar bahwa dalam ajaran Aswaja
hendaknya seseorang menjadikan pahala amalnya dan salatnya dihadiahkan kepada
orang lain (yang telah wafat), dan hal itu akan sampai kepadanya” (I’anat
al-Thalibin I/33)
Sumber ;
http://www.sarkub.com/2014/sampainya-bacaan-al-quran-dan-dzikir-kepada-ahli-kubur/
Catatan Ustadz Makruf Khozin
Bacaan Al Fatihah (2)
Sunnah Membaca Al Quran Di Kuburan
Imam al-Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi’iyah
tentang membaca al-Quran di kuburan:
وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ
مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ
عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)
“Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran
sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini
dijelaskan oleh al-Syafi’i dan disepakati oleh ulama Syafi’iyah” (al-Nawawi,
al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab V/311)
Di bagian lain Imam Nawawi juga berkata:
قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا
عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ
حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)
“Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berkata: Disunahkan
membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka
mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus” (al-Adzkar
I/162 dan al-Majmu’ V/294)
Murid Imam Syafi’i yang juga kodifikator Qaul Qadim[3],
al-Za’farani, berkata:
وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ
الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح
لابن القيم 1 / 11)
“Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim)
bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau
menjawab: Tidak apa-apa”
Ibnu Hajar mengulas lebih kongkrit:
ِلأَنَّ الْقُرْآنَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ وَالذِّكْرُ يَحْتَمِلُ
بِهِ بَرَكَةٌ لِلْمَكَانِ الَّذِي يَقَعُ فِيْهِ وَتَعُمُّ تِلْكَ الْبَرَكَةُ سُكَّانَ
الْمَكَانِ وَأَصْلُ ذَلِكَ وَضْعُ الْجَرِيْدَتَيْنِ فِي الْقَبْرِ بِنَاءً عَلَى
أَنَّ فَائِدَتَهُمَا أَنَّهُمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ تُسَبِّحَانِ فَتَحْصُلُ
الْبَرَكَةُ بِتَسْبِيْحِهِمَا لِصَاحِبِ الْقَبْرِ … وَإِذَا حَصَلَتِ الْبَرَكَةُ
بِتَسْبِيْحِ الْجَمَادَاتِ فَبِالْقُرْآنِ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الذِّكْرِ مِنَ اْلآدَمِيِّ
الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الْحَيَوَانِ أَوْلَى بِحُصُوْلِ الْبَرَكَةِ بِقِرَاءَتِهِ
وَلاَ سِيَّمَا إِنْ كَانَ الْقَارِئُ رَجُلاً صَالِحًا وَاللهُ أَعْلَمُ (الإمتاع
بالأربعين المتباينة السماع للحافظ ابن حجر 1 / 86)
“Sebab al-Quran adalah dzikir yang paling mulia, dan
dzikir mengandung berkah di tempat dibacakannya dzikir tersebut, yang kemudian
berkahnya merata kepada para penghuninya (kuburan). Dasar utamanya adalah
penanaman dua tangkai pohon oleh Rasulullah Saw di atas kubur, dimana kedua
pohon itu akan bertasbih selama masih basah dan tasbihnya terdapat berkah bagi
penghuni kubur. Jika benda mati saja ada berkahnya, maka dengan al-Quran yang
menjadi dzikir paling utama yang dibaca oleh makhluk yang paling mulia sudah
pasti lebih utama, apalagi jika yang membaca adalah orang shaleh” (al-Hafidz
Ibnu Hajar, al-Imta’ I/86)
Dan hadis dari Ali secara marfu’:
وَحَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوْعًا مَنْ مَرَّ
عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَحَدَ عَشَرَ مَرَّةً وَوَهَبَ
اَجْرَهُ لِلاَمْوَاتِ اُعْطِىَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ رَوَاهُ أَبُوْ
مُحَمَّدٍ السَّمَرْقَنْدِي (التفسير المظهرى 1 / 3733 وشرح الصدور بشرح حال الموتى
والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 303)
“Barangsiapa melewati kuburan kemudian membaca surat
al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah
meninggal, maka ia mendapatkan pahala sesuai bilangan orang yang meninggal.
Diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-Samarqandi” (Tafsir al-Mudzhiri I/3733 dan
al-Hafidz al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur I/303)
Imam Ahmad Menganjurkan Membaca Alfatihan
Hal ini diperkuat oleh madzhab Imam Ahmad:
(وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ) قَالَ الْمَرُّوْذِيُّ
سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُوْلُ إذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوْا بِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ثَوَابَ ذَلِكَ
إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ اْلأَنْصَارِ
فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ (مطالب أولي النهى للرحيباني
الحنبلي 5 / 9)
“(Dianjurkan membaca al-Quran di kuburan) Al-Marrudzi
berkata: Saya mendengar Imam Ahmad berkata: Jika kalian masuk ke kuburan maka
bacalah surat al-Fatihah, al-Falaq, al-Nas dan al-Ikhlash. Jadikan pahalanya
untuk ahli kubur, maka akan sampai pada mereka. Seperti inilah tradisi sahabat
Anshar dalam berlalu-lalang ke kuburan untuk membaca al-Quran” (Mathalib Uli
al-Nuha 5/9)
2 hal penting:
Pertama, Membaca Surat al-Fatihah kepada mayyit itu
dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
Kedua, Membaca al-Qur’an di kuburan itu bukan hal yang
dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam
Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
Hal itu bisa kita temukan di kitab Mathalib Ulin Nuha,
karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (w. 1243 H). Beliau seorang ulama madzhab
Hanbali kontemporer, seorang mufti madzhab Hanbali di Damaskus sejak tahun 1212
H sampai wafat. Kitab Mathalib Ulin Nuhaitu sendiri adalah syarah atau penjelas
dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Karmi (w. 1033 H).
(Khairuddin az-Zirikly w. 1396 H, al-A’lam, h. 7/ 234)
Bahkan menurut Imam Ahmad hal diatas adalah konsensus
para ulama:
قَالَ أَحْمَدُ الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ
الْخَيْرِ لِلنُّصُوْصِ الْوَارِدَةِ فِيْهِ وَلأَنَّ الْمُسْلِمِيْنَ يَجْتَمِعُوْنَ
فِي كُلِّ مِصْرٍ وَيَقْرَءُوْنَ وَيَهْدُوْنَ لِمَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ
فَكَانَ إجْمَاعًا (كشاف القناع عن متن الإقناع للبهوتي الحنبلي 4 / 431 ومطالب اولي
النهى للرحيباني الحنبلي 5 / 10)
“Imam Ahmad berkata: Setiap kebaikan bisa sampai kepada
mayit berdasarkan dalil al-Quran dan hadis, dan dikarenakan umat Islam berkumpul
di setiap kota, mereka membaca al-Quran dan menghadiahkan untuk orang yang
telah meninggal diantara mereka, tanpa ada pengingkaran. Maka hal ini adalah
ijma’ ulama (Kisyaf al-Qunna’ IV/ 431 dan Mathalib Uli al-Nuha V/10)
Bacaan Al-Fatihah (1)
Bacaan Alfatihah
Hadis membaca surat Al Fatihah untuk yang meninggal dunia
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ
إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ
بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم
13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka
janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya
dibacakan pembukaan al-Quran Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup
surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613,
al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis
tersebut:
“HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari
III/184)
Surat Fatihah Adalah Doa
Imam al-Bukhari dan Imam
Muslim meriwayatkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah singgah di sebuah
kabilah, yang kepala sukunya terkena gigitan hewan berbisa. Lalu sahabat
melakukan doa ruqyah dengan bacaan Fatihah (tanpa ada contoh dan perintah dari
Nabi). Kepala suku pun mendapat kesembuhan dan sahabat mendapat upah kambing.
Ketika disampaikan kepada Nabi, beliau tersenyum dan berkata:
وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا
رُقْيَةٌ أَصَبْتُمُ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ
“Dari mana kalian tahu bahwa surat Fatihah adalah doa?
Kalian benar. Bagikan dan beri saya bagian dari kambing itu” (HR al-Bukhari dan
Muslim, redaksi diatas adalah hadis al-Bukhari)
Di hadis ini sahabat membaca al-Fatihah untuk doa ruqyah
adalah dengan ijtihad, bukan dari perintah Nabi. Mengapa para sahabat
melakukannya, sebab hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah. Sebagaimana
dijelaskan oleh Allah dalam al-Hasyr: 7
“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah
dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”
Yang harus ditinggalkan adalah sesuatu yang dilarang oleh
Rasulullah, bukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah! Dalam masalah
al-Fatihah ini tidak ada satupun hadis yang melarang membaca al-Fatihah
dihadiahkan untuk mayit!
Bahkan membaca al-Fatihah untuk orang yang telah wafat
juga telah diamalkan oleh para ulama, diantara ulama ahli Tafsir berikut:
وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ
مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ
اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ
وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ
الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ (تفسير الرازي : مفاتيح الغيب 18 / 183
“(al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab
saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk
anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh
dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri
melakukan hal tersebut” (Tafsir al-Razi 18/233-234)
Powered by Blogger.